← Daftar fauna
Rentan (Vulnerable/VU). Satwa yang dilindungi

Tarsius

Tarsius spectrumgurskyae

Tarsius spektral Gursky merupakan primata nokturnal berukuran kecil yang endemik Sulawesi. Satwa ini dikenal karena matanya yang sangat besar, telinganya yang lebar, ekornya yang panjang, serta kemampuannya melompat dari satu pohon ke pohon lain.

Sepasang Tarsius di pohon di Taman Wisata Alam Batu Putih, Bitung.
Sepasang Tarsius di pohon di Taman Wisata Alam Batu Putih, Bitung. Foto: Saroyo Sumarto

Deskripsi

Tarsius spektral Gursky adalah salah satu primata terkecil di dunia. Tubuhnya ditutupi bulu berwarna abu-abu kecokelatan, sedangkan ekornya jauh lebih panjang daripada tubuh dan memiliki rumbai pada bagian ujung. Matanya yang sangat besar membantunya melihat pada malam hari. Karena matanya tidak dapat digerakkan secara bebas, tarsius mampu memutar kepalanya hampir 180 derajat ke setiap sisi.

Tarsius aktif pada malam hari dan biasanya beristirahat pada siang hari di lubang pohon, rumpun bambu, akar gantung, atau vegetasi yang rapat. Kaki belakang dan jari-jarinya yang panjang memungkinkan satwa ini mencengkeram batang serta melompat dengan cepat. Tarsius hidup dalam kelompok keluarga kecil dan berkomunikasi menggunakan berbagai suara, termasuk panggilan duet.

Berbeda dari kebanyakan primata, tarsius merupakan pemakan hewan. Makanan utamanya adalah serangga, seperti jangkrik, belalang, kumbang, dan ngengat. Sesekali tarsius juga memangsa laba-laba, kadal kecil, burung, kelelawar, dan hewan bertulang belakang kecil lainnya. Ancaman utamanya meliputi kehilangan dan fragmentasi habitat, kebakaran hutan, penggunaan pestisida, perburuan, perdagangan ilegal, serta gangguan manusia di sekitar tempat tidurnya.

Penyebaran

Tarsius spektral Gursky ditemukan di bagian timur Semenanjung Utara Sulawesi, terutama di Provinsi Sulawesi Utara dan sebagian Gorontalo di sebelah timur Tanah Genting Gorontalo. Di Sulawesi Utara, habitatnya antara lain terdapat di kawasan Tangkoko–Batuangus dan Taman Wisata Alam Batuputih, Kota Bitung. Satwa ini menghuni hutan primer, hutan sekunder, semak belukar, perkebunan campuran, dan vegetasi di sekitar permukiman yang masih memiliki pepohonan rapat. Mammal Diversity Database dan Primate Conservation