← Daftar fauna
Rentan (Vulnerable/VU) dan dilindungi

Babirusa

Babyrousa celebensis

Babirusa Sulawesi merupakan mamalia endemik Sulawesi yang masih berkerabat dengan babi. Ciri paling khas pada babirusa jantan adalah dua pasang taring panjang yang tumbuh melengkung ke atas; taring atasnya bahkan menembus kulit moncong.

Beberapa Babirusa Sulawesi di Taman Safari Bali, Indonesia
Beberapa Babirusa Sulawesi di Taman Safari Bali, Indonesia Foto: Saroyo Sumarto

Deskripsi

Babirusa Sulawesi (Babyrousa celebensis) yang terdapat di Sulawesi dibedakan dengan Babirusa Berbulu (Babyrousa babyrussa) yang terdapat di Pulau Buru, Maluku.

Babirusa memiliki panjang tubuh sekitar 85–110 sentimeter dan berat yang dapat mencapai sekitar 100 kilogram. Tubuhnya ditutupi rambut yang sangat pendek dan jarang sehingga kulitnya yang berwarna abu-abu kecokelatan terlihat hampir tidak berbulu. Kakinya relatif panjang dan ramping dibandingkan dengan babi pada umumnya.

Babirusa jantan memiliki dua pasang taring yang berasal dari gigi taring atas dan bawah. Taring atas tumbuh menembus kulit moncong, kemudian melengkung ke belakang menuju dahi. Taring babirusa betina jauh lebih pendek dan biasanya tidak menonjol. Nama “babirusa” berasal dari bentuk taring jantan yang dianggap menyerupai tanduk rusa.

Satwa ini menghuni hutan hujan tropis, hutan di sekitar sungai dan danau, kawasan rawa, serta daerah yang memiliki sumber air dan tempat berkubang. Babirusa mampu berenang dan biasanya aktif pada siang hari. Babirusa jantan dewasa cenderung hidup sendiri, sedangkan betina dapat ditemukan bersama anak-anaknya dalam kelompok kecil.

Babirusa termasuk hewan omnivor. Makanannya meliputi buah-buahan yang jatuh, daun, akar, umbi, jamur, biji-bijian, serangga, dan hewan kecil. Rahangnya yang kuat dapat digunakan untuk memecahkan buah atau biji yang keras.

Babirusa memiliki tingkat reproduksi yang relatif rendah. Betina umumnya hanya melahirkan satu atau dua anak. Kondisi ini membuat populasinya sulit pulih ketika banyak individu diburu. Ancaman utamanya adalah perburuan untuk dikonsumsi dan diperdagangkan, pemasangan jerat, pembukaan hutan, pertambangan, serta fragmentasi habitat.

Penyebaran

Babirusa Sulawesi merupakan satwa endemik Pulau Sulawesi. Secara historis, spesies ini juga dilaporkan terdapat di Pulau Lembeh, Muna, dan Buton, tetapi keberadaannya saat ini di beberapa pulau tersebut belum dapat dipastikan.

Di Sulawesi Utara, babirusa dahulu tersebar lebih luas di Semenanjung Utara Sulawesi. Salah satu kawasan habitat pentingnya adalah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, khususnya wilayah hutan yang mencakup Bolaang Mongondow dan kawasan yang berbatasan dengan Gorontalo. Populasinya di bagian utara Sulawesi telah berkurang drastis akibat perburuan dan kehilangan habitat. Benteng populasi penting lainnya berada di Suaka Margasatwa Nantu dan Pegunungan Boliyohuto di Provinsi Gorontalo.

Babirusa yang hidup di Kepulauan Togean merupakan spesies berbeda, yaitu babirusa Togean (Babyrousa togeanensis). Informasi konservasi dan persebaran didukung oleh IUCN Wild Pig Specialist Group dan BBKSDA Sulawesi Selatan